Bakpia, Klepon Belanda, dan Kwetiau: Nasib Kuliner Perantau

Bakpia, Klepon Belanda, dan Kwetiau: Nasib Kuliner Perantau

Oleh Admin β€’ 20 Aug 2026 β€’ 22 views

Pernah nggak sih kamu makan sesuatu yang rasanya familiar banget, tapi begitu tahu asal-usulnya, kamu jadi geleng-geleng kepala saking jauhnya perjalanan makanan itu? Nah, ini yang terjadi sama tiga kuliner yang bakal kita bahas hari ini: bakpia, poffertjes, dan kwetiau. Ketiganya punya satu kesamaan unik, yaitu mereka adalah "kuliner perantau" yang melintasi lautan, berganti nama, berganti isi, bahkan berganti identitas budaya, sebelum akhirnya mendarat manis di lidah kita di Indonesia, termasuk di Bandung yang terkenal dengan keberagaman jajanannya.

Yuk, kita telusuri satu per satu bagaimana makanan-makanan ini "merantau" dan akhirnya jadi bagian dari identitas kuliner Nusantara.

Bakpia: Dari Kue Pia Cina Sampai Jadi Ikon Yogyakarta

Kalau ditanya oleh-oleh khas Yogyakarta, jawaban paling klasik pasti bakpia. Tapi tahukah kamu, bakpia sebenarnya bukan asli tanah Jawa? Nama "bakpia" berasal dari dialek Hokkian, bak yang berarti daging dan pia yang berarti kue. Jadi secara harfiah, bakpia artinya "kue daging".

Di negeri asalnya, Tiongkok, kue ini memang berisi daging babi yang dicampur bumbu manis gurih. Ketika para perantau Tiongkok membawa resep ini ke Nusantara pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, mereka harus beradaptasi dengan pasar lokal yang mayoritas muslim. Isian daging pun perlahan diganti menjadi kacang hijau tumbuk yang dimasak manis, jauh lebih ramah untuk lidah dan keyakinan masyarakat setempat.

Perubahan ini justru jadi berkah. Bakpia kacang hijau yang lahir dari adaptasi tersebut malah menjadi identitas baru yang lebih diterima luas, bahkan berkembang jadi berbagai varian modern seperti bakpia isi cokelat, keju, hingga durian yang kita kenal sekarang. Ini contoh nyata bagaimana akulturasi kuliner bisa melahirkan sesuatu yang justru lebih otentik dari versi aslinya.

Kenapa Bakpia Bisa Bertahan Ratusan Tahun?

  • Bahan dasarnya sederhana dan mudah didapat di pasar lokal.
  • Rasa manis gurihnya cocok dengan lidah orang Indonesia.
  • Kemasannya praktis dibawa bepergian, cocok jadi oleh-oleh.

Poffertjes: Kue Mini Belanda yang Diam-Diam Jadi Favorit Nusantara

Kalau kamu suka jajan kue kecil-kecil bulat yang empuk dan biasa ditaburi gula halus serta mentega, kamu mungkin pernah kenal dengan poffertjes. Kue ini adalah warisan kuliner Belanda yang dibawa masuk ke Indonesia pada masa kolonial.

Menariknya, poffertjes sendiri di Belanda punya sejarah yang cukup unik. Konon kue ini populer sejak abad ke-19 dan awalnya dianggap makanan "murah meriah" karena teksturnya yang ringan dan mengenyangkan meski dibuat dari bahan sederhana seperti tepung terigu, ragi, dan susu. Saat dibawa ke Hindia Belanda, resep ini pun beradaptasi dengan bahan-bahan lokal yang tersedia, dan lambat laun menjelma jadi jajanan pasar yang akrab di telinga masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota bekas pusat kolonial seperti Bandung, Semarang, dan Jakarta.

Di Bandung sendiri, kamu masih bisa menemukan penjual poffertjes di pasar-pasar tradisional maupun bazar kuliner, biasanya disajikan hangat dengan taburan gula halus, meses, atau keju parut. Rasanya yang manis lembut jadi pengingat kecil bagaimana jejak kolonial ternyata juga meninggalkan warisan kuliner yang tetap digemari sampai sekarang, tanpa embel-embel kontroversi sejarahnya.

Kwetiau: Mi Rata yang Menyatukan Dua Budaya

Terakhir, mari kita bahas kwetiau, salah satu jenis mi yang paling sering kita temui di warung tenda maupun restoran Chinese food di Indonesia. Kwetiau berasal dari daratan Tiongkok bagian selatan, khususnya dari wilayah Guangdong dan Chaozhou, dibawa oleh para perantau Tionghoa yang berlayar ke berbagai penjuru Asia Tenggara, termasuk Nusantara, sejak berabad-abad lalu.

Kata "kwetiau" sendiri berasal dari dialek Teochew yang berarti "kue mi dari beras". Uniknya, meski berasal dari satu akar yang sama, kwetiau berkembang jadi banyak varian berbeda di setiap negara singgahannya. Di Thailand ia dikenal sebagai guay teow, di Vietnam bertransformasi jadi banh pho, dan di Indonesia sendiri kwetiau goreng maupun kwetiau siram menjadi menu wajib di berbagai kota, termasuk Bandung yang punya versi kwetiau goreng dengan bumbu kecap manis yang khas dan medok.

Yang menarik, di Indonesia kwetiau sering dimasak dengan campuran ayam, telur, dan sayuran, jauh berbeda dari versi aslinya yang kadang memakai bahan non-halal. Adaptasi ini membuat kwetiau bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa mengorbankan cita rasa gurih dan legitnya yang khas.

Tips Menikmati Kwetiau ala Rumahan

  1. Gunakan kwetiau segar agar teksturnya lebih kenyal saat digoreng.
  2. Tambahkan kecap manis berkualitas untuk warna dan rasa yang pekat.
  3. Masukkan telur orak-arik dan potongan ayam suwir sebagai pelengkap protein halal.
  4. Sajikan dengan taburan bawang goreng dan sedikit perasan jeruk nipis untuk kesegaran ekstra.

Kuliner Perantau, Cermin Perjalanan Budaya

Dari bakpia, poffertjes, sampai kwetiau, kita bisa lihat pola yang sama: makanan yang merantau jauh dari kampung halamannya, lalu beradaptasi dengan budaya dan keyakinan masyarakat baru, hingga akhirnya diterima sebagai bagian dari identitas kuliner lokal. Proses ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal bagaimana manusia saling bertukar budaya lewat piring makan mereka.

Di Bandung sendiri, kita beruntung bisa menikmati begitu banyak jejak akulturasi seperti ini, mulai dari jajanan pasar peninggalan kolonial sampai kuliner Tionghoa yang sudah membaur sempurna dengan lidah Sunda. Semua itu adalah bukti bahwa makanan memang punya kekuatan untuk menyatukan, bahkan ketika sejarahnya berasal dari tempat yang sangat jauh berbeda.

Jadi, lain kali kamu menyantap sepotong bakpia hangat atau semangkuk kwetiau goreng, coba deh sesekali renungkan perjalanan panjang di baliknya. Yuk, mulai eksplorasi kuliner perantau ini di dapur rumahmu sendiri, siapa tahu kamu menemukan versi baru yang lebih otentik ala racikanmu!

#asal usul makanan #kuliner nusantara #resep #kuliner bandung #jajanan tradisional #masakan nusantara

Artikel Lainnya

Dari Kapal Dagang ke Meja Makan: Asal Usul Makanan Dunia

Dari Kapal Dagang ke Meja Makan: Asal Usul Makanan Dunia

Menyusuri jejak makanan dunia yang lahir dari perjalanan panjang kapal dagang, dan bagaimana kisah itu bermuara di dapur-dapur Nusantara.

Piring Kosong Jadi Legenda: Kisah Makanan Terkenal Lahir dari Ketidaksengajaan

Piring Kosong Jadi Legenda: Kisah Makanan Terkenal Lahir dari Ketidaksengajaan

Ternyata banyak hidangan legendaris dunia justru lahir dari kesalahan dapur, bahan sisa, atau kejadian tak terdugaβ€”bukan dari rencana matang seorang koki jenius.

Kisah Nyeleneh di Balik Pizza, Sushi, dan Croissant Dunia

Kisah Nyeleneh di Balik Pizza, Sushi, dan Croissant Dunia

Pizza dari akal-akalan orang miskin, sushi dari cara mengawetkan ikan, croissant dari perayaan kemenangan perangβ€”ini dia cerita di balik makanan sejagat.