Kalau lagi jalan-jalan sore di Bandung, coba perhatikan gerobak-gerobak kecil di pinggir jalan. Ada yang menggoreng adonan kenyal berbau bawang, ada yang membakar adonan tepung beras di atas tungku tanah liat, ada juga yang menjual singkong berwarna kekuningan dengan aroma khas beralkohol samar-samar. Itulah tiga camilan yang sudah jadi identitas kuliner Bandung: cireng, surabi, dan peuyeum. Tapi pernahkah kita bertanya, dari mana sebenarnya asal usul tiga jajanan legendaris ini? Ternyata di balik rasa yang sederhana, ada cerita panjang tentang kreativitas, keterbatasan, dan kecintaan orang Sunda pada bahan pangan lokal.
Cireng: Solusi Cerdas di Masa Sulit
Cireng adalah singkatan dari "aci digoreng", dan namanya memang seharfiah itu. Konon, jajanan ini lahir sekitar era 1970-1980an, saat masyarakat Jawa Barat mencari cara memanfaatkan tepung tapioka atau aci yang harganya jauh lebih murah dibanding tepung terigu. Pada masa itu, terigu masih dianggap bahan "mewah" karena harus diimpor, sementara singkong—bahan baku tapioka—tumbuh subur di ladang-ladang Sunda.
Ibu-ibu rumah tangga mulai berkreasi mencampur aci dengan bawang putih, daun bawang, dan sedikit garam, lalu menggorengnya hingga bagian luar renyah namun bagian dalam tetap kenyal dan sedikit lengket. Sensasi tekstur inilah yang membuat cireng cepat digemari, apalagi ketika disantap panas-panas dengan sambal rujak atau saus kacang pedas manis.
Menariknya, cireng terus berevolusi. Kini kita mengenal cireng isi dengan varian ayam suwir, keju, hingga sosis sapi. Bahkan beberapa pelaku UMKM di Bandung membuat cireng kekinian dengan isian rendang atau abon sapi—bukti bahwa jajanan sederhana ini tetap relevan mengikuti selera zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Kenapa Cireng Begitu Digemari?
- Bahan bakunya murah dan mudah didapat di pasar tradisional
- Teksturnya unik: renyah di luar, kenyal di dalam
- Fleksibel dipadukan dengan berbagai saus dan isian
- Bisa jadi ide bisnis kuliner rumahan dengan modal kecil
Surabi: Jejak Kuliner dari Dapur Tradisional Sunda
Berbeda dengan cireng yang relatif "muda", surabi punya sejarah yang jauh lebih tua. Beberapa sumber lisan menyebutkan surabi sudah ada sejak zaman kerajaan Sunda, dibuat sebagai hidangan sederhana dari tepung beras yang dicampur santan, lalu dipanggang di atas tungku tanah liat dengan bara api dari arang atau kayu bakar.
Proses memasaknya yang khas—menggunakan cetakan tanah liat kecil bernama anglo—memberikan aroma smoky alami yang sulit ditiru dengan kompor gas modern. Inilah kenapa surabi tradisional di daerah seperti Ciwidey atau Setiabudi sering dianggap punya cita rasa lebih otentik dibanding versi kekinian yang dipanggang massal.
Dulu, surabi biasanya disajikan polos dengan taburan oncom pedas atau kinca gula merah. Namun seiring waktu, terutama sejak tahun 2000-an, muncul inovasi surabi kekinian dengan topping cokelat, keju, hingga durian. Meski begitu, banyak pecinta kuliner sejati yang tetap setia pada surabi oncom—perpaduan gurih dan pedas yang jadi comfort food khas Sunda.
Makna Filosofis di Balik Surabi
Menariknya, dalam beberapa tradisi masyarakat Sunda, surabi kerap muncul di acara syukuran atau selamatan kecil. Bentuknya yang bundar dipercaya melambangkan kebersamaan dan kesederhanaan hidup—nilai yang memang lekat dengan filosofi hidup masyarakat Sunda pada umumnya.
Peuyeum: Fermentasi yang Jadi Warisan Rasa
Kalau cireng dan surabi lahir dari kreativitas memasak, peuyeum justru lahir dari proses fermentasi alami yang butuh kesabaran. Peuyeum dibuat dari singkong pilihan yang dikukus, lalu diberi ragi khusus dan didiamkan selama dua hingga tiga hari. Hasilnya adalah singkong dengan tekstur lembut, rasa manis-asam yang khas, serta aroma fermentasi yang unik.
Daerah Cimenyan dan sekitar Bandung Timur dikenal sebagai sentra penghasil peuyeum berkualitas sejak puluhan tahun lalu. Konon, tradisi fermentasi singkong ini sudah ada sejak masa kolonial, ketika masyarakat mencari cara mengawetkan singkong agar tidak cepat busuk, sekaligus meningkatkan nilai jualnya.
Penting untuk digarisbawahi, aroma "beralkohol" pada peuyeum murni berasal dari proses fermentasi alami karbohidrat singkong oleh ragi, bukan penambahan alkohol sebagai bahan. Kandungan alkoholnya sangat minim dan menguap saat proses fermentasi maupun setelah matang, sehingga peuyeum tetap aman dan halal dikonsumsi sebagaimana tape singkong pada umumnya di berbagai daerah Nusantara.
Peuyeum di Tangan Kreatif Anak Muda Bandung
Kini peuyeum tak hanya dimakan langsung. Banyak pelaku usaha kuliner Bandung yang mengolahnya menjadi:
- Colenak — peuyeum bakar disiram saus gula merah dan kelapa parut
- Es peuyeum — dipadukan dengan susu dan es serut
- Bolu peuyeum — dijadikan campuran adonan kue basah
Inovasi-inovasi ini membuktikan bahwa peuyeum, meski berakar dari tradisi lama, tetap punya tempat di lidah generasi masa kini.
Kenapa Cerita Ini Penting Kita Ketahui?
Mengetahui asal usul cireng, surabi, dan peuyeum bukan sekadar menambah wawasan kuliner, tapi juga membuat kita lebih menghargai proses panjang di baliknya. Ketiga jajanan ini lahir dari keterbatasan, kesabaran, dan kecintaan pada bahan pangan lokal—nilai yang relevan banget untuk kita bawa ke dapur sendiri, apalagi kalau sedang mencoba resep tradisional Sunda di rumah.
Jadi, lain kali saat menggigit cireng hangat, menyantap surabi oncom, atau mencicipi peuyeum manis-asam, coba deh resapi ceritanya. Ada jejak sejarah, kreativitas, dan identitas budaya Sunda yang tersimpan di setiap gigitan. Yuk, dukung terus jajanan tradisional Bandung dengan sering-sering membelinya dari pedagang lokal—selain enak, kita juga ikut melestarikan warisan kuliner yang tak ternilai harganya.


