Pernah nggak sih, kamu makan sesuatu yang enak banget, tapi nggak pernah kepikiran kenapa namanya bisa begitu? Padahal di balik nama-nama makanan yang kita santap sehari-hari, ada cerita yang kadang lucu, kadang mengharukan, dan selalu bikin kita makin sayang sama warisan kuliner Nusantara. Kali ini kita akan menelusuri tiga makanan yang sering muncul di meja makan: pempek, empal gentong, dan serabi. Ternyata, nama-nama ini bukan sekadar label, tapi jejak sejarah yang tersimpan rapi dalam setiap suapan.
Produk yang Mungkin Kamu Butuhkan
* Link affiliate — kamu bisa bantu support KulinerBDG dengan belanja lewat link ini
Pempek: Dari Panggilan "Apek" ke Ikon Palembang
Kalau ditanya makanan apa yang identik dengan Palembang, jawabannya pasti pempek. Tapi tahukah kamu, nama "pempek" konon berasal dari panggilan untuk pedagang keliling keturunan Tionghoa yang dulu menjual makanan ini di sekitar tahun 1600-an? Masyarakat setempat biasa memanggil pedagang lelaki tua itu dengan sebutan "apek" atau "pek", mirip panggilan akrab untuk om atau kakek dalam budaya Tionghoa peranakan.
Karena si apek ini keliling menjual olahan ikan dan sagu dengan gerobak sambil berteriak menawarkan dagangannya, orang-orang pun lama-lama menyebut makanannya sebagai "pempek", diambil dari cara mereka memanggil penjualnya. Menarik, kan? Nama makanan yang sekarang mendunia ini justru lahir dari kebiasaan sederhana masyarakat menyapa pedagang kaki lima.
Dari sisi bahan, pempek sebenarnya jawaban cerdas orang Palembang zaman dulu terhadap melimpahnya ikan sungai Musi. Daripada ikan cepat busuk, mereka mengolahnya dengan sagu supaya awet dan bisa dibawa berlayar. Jadi selain nama yang unik, pempek juga menyimpan kisah tentang bagaimana masyarakat pesisir sungai memutar otak menghadapi hasil tangkapan yang berlimpah.
Fakta Menarik Pempek
- Kuah cuko pempek yang asam pedas awalnya dibuat pekat supaya tahan lama dibawa saat bepergian jauh dengan perahu.
- Pempek kapal selam, salah satu varian paling populer, dinamai begitu karena bentuknya yang mengapung mirip kapal selam saat direbus.
- Dulu pempek dijual per gigit di pinggir jalan, jadi porsinya kecil-kecil dan bisa dinikmati sambil jalan.
Empal Gentong: Ketika Nama Periuk Jadi Identitas Rasa
Bergeser ke Cirebon, ada satu hidangan berkuah santan kental berempah yang bernama empal gentong. Kalau "empal" gampang dipahami sebagai potongan daging yang dimasak, lalu dari mana asal kata "gentong"? Jawabannya sederhana tapi menggemaskan: karena dulu makanan ini dimasak dan disajikan langsung dari periuk tanah liat besar yang disebut gentong.
Gentong tanah liat dipilih bukan tanpa alasan. Bahan tanah liat dipercaya bisa menjaga rasa kuah lebih gurih dan aromanya lebih harum karena proses memasak yang lambat dan merata. Selain itu, memasak dengan kayu bakar di bawah gentong membuat asap dan panasnya menyatu sempurna dengan rempah, menciptakan cita rasa smoky yang khas dan sulit ditiru kalau dimasak dengan panci logam biasa.
Sampai sekarang, banyak warung empal gentong legendaris di Cirebon yang tetap mempertahankan cara memasak tradisional ini sebagai bagian dari identitas rasa. Jadi kalau kamu mampir ke Cirebon dan melihat gentong besar mengepul di depan warung, itu bukan sekadar pajangan, melainkan bagian penting dari resep yang dijaga turun-temurun.
Kenapa Empal Gentong Begitu Digemari?
- Kuah kuning kental dari santan dan kunyit memberikan rasa gurih yang creamy tapi tetap ringan di lidah.
- Taburan bawang goreng dan kucai memberi aroma segar yang menyeimbangkan rasa gurihnya daging.
- Biasanya disantap dengan nasi atau lontong plus sambal dan kerupuk kulit sebagai pelengkap wajib.
Serabi: Kue Tradisional dari Bunyi dan Bentuknya Sendiri
Serabi, si kue tepung beras yang lembut dan gurih, punya cerita nama yang lebih sederhana namun tetap menarik. Beberapa sejarawan kuliner Nusantara menyebut nama "serabi" diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa Sunda kuno yang menggambarkan proses pembuatannya, yakni adonan yang "disaring" sebelum dituang ke cetakan tanah liat kecil bernama cething atau anglo.
Proses memasaknya pun unik: adonan dituang ke cetakan kecil, ditutup, lalu dimasak di atas bara api kecil sampai bagian pinggirnya renyah tapi tengahnya tetap lembut. Suara "srap srap" saat adonan dituang ke cetakan panas juga dipercaya menjadi salah satu alasan penamaan serabi, meski ini lebih ke cerita rakyat yang diturunkan lisan dari generasi ke generasi di tanah Sunda.
Di Bandung sendiri, serabi sudah menjadi bagian dari sarapan pagi masyarakat sejak lama. Bahkan ada beberapa kedai serabi legendaris yang usianya lebih tua dari kemerdekaan Indonesia, dan resepnya masih dijaga sama seperti dulu, tanpa banyak berubah.
Ragam Serabi yang Bisa Kamu Coba
- Serabi original dengan siraman kinca gula merah yang manis legit.
- Serabi oncom untuk yang suka rasa gurih pedas ala Sunda.
- Serabi modern dengan topping keju, cokelat, atau susu kental manis untuk lidah generasi kekinian.
Belajar dari Nama, Menghargai Cerita di Baliknya
Dari pempek yang lahir dari panggilan akrab seorang pedagang, empal gentong yang setia pada periuk tanah liatnya, sampai serabi yang namanya terikat pada bunyi dan cara memasak tradisional, kita jadi sadar bahwa nama makanan bukan sekadar label di menu warung. Ada sejarah, kebiasaan, dan kearifan lokal yang tersimpan di dalamnya.
Jadi, lain kali kalau kamu menikmati pempek, empal gentong, atau serabi, coba deh sesekali berhenti sejenak sebelum menyantapnya. Bayangkan perjalanan panjang nama itu, dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, sampai akhirnya sampai di piringmu hari ini. Yuk, mulai jelajahi lebih banyak kuliner Nusantara dengan rasa penasaran yang sama—siapa tahu, makanan favoritmu berikutnya juga punya cerita nama yang tak kalah menarik untuk digali.


