Ada satu hal menarik yang menyatukan dapur Korea, Jepang, dan Nusantara: fermentasi. Proses yang kelihatannya sederhana—membiarkan bahan makanan "berubah" oleh mikroba baik—ternyata jadi kunci rasa umami, aroma khas, dan bahkan manfaat kesehatan di banyak masakan dunia. Kalau selama ini kamu cuma menganggap kimchi sebagai pelengkap makan Korea atau tempe sekadar lauk sehari-hari, saatnya melihat mereka dari sudut yang lebih dalam: sebagai bagian dari tradisi fermentasi global yang saling terhubung meski lahir di tempat berbeda.
* Link affiliate — kamu bisa bantu support KulinerBDG dengan belanja lewat link ini
2>Kenapa Manusia Suka Memfermentasi Makanan?
Jauh sebelum ada kulkas, fermentasi adalah cara manusia mengawetkan makanan. Sayur yang direndam garam, kedelai yang dibiarkan berjamur, atau susu yang diolah jadi keju—semuanya lahir dari kebutuhan praktis. Tapi yang menarik, proses ini justru menghasilkan sesuatu yang tidak terduga: rasa yang jauh lebih kompleks daripada bahan aslinya.
Mikroba seperti bakteri asam laktat, ragi, dan kapang bekerja memecah gula dan protein menjadi senyawa baru. Hasilnya adalah rasa asam segar, gurih mendalam (umami), atau aroma tajam yang khas. Inilah kenapa banyak masakan fermentasi punya penggemar setia—rasanya sulit ditiru dengan cara masak biasa.
Kimchi: Fermentasi yang Jadi Identitas Korea
Kimchi mungkin adalah duta besar makanan fermentasi paling terkenal di dunia. Sawi putih yang direndam garam lalu dibumbui bubuk cabai, bawang putih, jahe, dan sedikit gula ini difermentasi selama beberapa hari hingga berminggu-minggu. Semakin lama fermentasinya, rasanya semakin asam dan kompleks.
Yang jarang diketahui, ada ratusan variasi kimchi di Korea—mulai dari yang berbahan lobak, timun, hingga daun bawang. Di rumah, kamu bisa mencoba versi sederhana:
Iris sawi putih, lumuri garam, diamkan 2 jam lalu bilas.
Campur bubuk cabai Korea, bawang putih halus, jahe, sedikit gula, dan kecap ikan (atau bisa diganti garam plus kaldu jamur untuk versi tanpa produk hewani tertentu).
Lumuri rata ke sawi, masukkan wadah kedap udara, simpan di suhu ruang 1-2 hari sebelum dipindah ke kulkas.
Tempe: Kebanggaan Fermentasi Nusantara
Kalau Korea punya kimchi, Indonesia punya tempe—salah satu produk fermentasi paling jenius yang pernah ada. Kedelai yang direbus lalu diberi ragi jamur Rhizopus ini berubah dalam waktu 1-2 hari menjadi blok padat dengan aroma khas dan tekstur yang kenyal.
Menariknya, tempe bukan cuma soal rasa—proses fermentasinya juga membuat kedelai lebih mudah dicerna dan meningkatkan ketersediaan nutrisi tertentu. Di dapur Nusantara, tempe jadi bahan yang sangat fleksibel: digoreng garing, dibacem manis, dioseng pedas, sampai dijadikan keripik tipis yang gurih.
Bagi yang ingin bereksperimen di rumah, tempe bacem adalah pintu masuk yang enak: rebus tempe dengan air kelapa, gula merah, bawang putih, ketumbar, dan daun salam sampai bumbu meresap, lalu goreng sebentar sampai pinggirnya sedikit karamel.
Miso: Pasta Fermentasi dari Jepang
Di Jepang, fermentasi kedelai punya wajah lain: miso. Pasta kental berwarna cokelat keemasan hingga cokelat gelap ini dibuat dari kedelai yang difermentasi bersama garam dan koji (kapang khusus) selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk varian tertentu.
Miso punya banyak level rasa tergantung lama fermentasinya:
Miso putih (shiro miso) — fermentasi singkat, rasa lebih ringan dan sedikit manis.
Miso merah (aka miso) — fermentasi lebih lama, rasa lebih tajam dan asin.
Miso sering dipakai untuk sup hangat sederhana: larutkan satu-dua sendok makan miso ke dalam kaldu sayur atau kaldu jamur panas, tambahkan tahu potong dadu dan irisan daun bawang. Praktis, hangat, dan penuh umami.
Benang Merah di Antara Ketiganya
Meski lahir dari budaya yang berbeda, kimchi, tempe, dan miso punya prinsip yang sama: memberi ruang dan waktu bagi mikroba untuk bekerja. Tidak ada yang instan di sini—semuanya butuh kesabaran, dan justru di situlah letak keistimewaannya.
Fermentasi juga mengajarkan kita bahwa rasa terbaik kadang tidak datang dari bumbu yang rumit, tapi dari proses yang dibiarkan berjalan alami. Inilah kenapa banyak chef dunia sekarang kembali melirik teknik fermentasi tradisional untuk menciptakan rasa yang lebih dalam dan otentik.
Tips Aman Mencoba Fermentasi di Rumah
Gunakan wadah bersih dan steril untuk menghindari kontaminasi bakteri jahat.
Pastikan bahan terendam sempurna dalam larutan garam atau bumbu agar fermentasi berjalan merata.
Cicipi secara berkala—fermentasi adalah soal selera, jadi hentikan prosesnya saat rasanya sudah sesuai keinginanmu.
Simpan di suhu ruang yang stabil, lalu pindahkan ke kulkas begitu rasa sudah pas untuk memperlambat fermentasi lebih lanjut.
Penutup
Kimchi, tempe, dan miso membuktikan bahwa fermentasi adalah bahasa rasa universal yang menghubungkan dapur-dapur di seluruh dunia, meski dengan bahan dan cara yang berbeda-beda. Yuk, coba salah satu resep sederhana di atas di dapur rumahmu, dan rasakan sendiri bagaimana waktu dan mikroba baik bisa mengubah bahan sederhana jadi hidangan penuh karakter!
🍪 Kami menggunakan cookie untuk menjaga sesi login dan menampilkan iklan yang relevan (Google AdSense). Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, kamu menyetujui
Kebijakan Cookie kami.